Iduladha bisa jadi momentum pemberdayaan peternak rakyat

Iduladha bisa jadi momentum pemberdayaan peternak rakyat

The Conversation
05 Jun 2025, 07:57 GMT+10

Dengan jumlah penduduk 284 juta orang, kebutuhan makanan Indonesia cukup besar. Belum lagi, demografi penduduk yang mayoritas muslim menjadikannya sebagai pasar daging sapi, kambing, atau lembu potensial-terutama di momen perayaan Idulfitri dan Iduladha.

Melansir Badan Pusat Statistik, permintaan daging di Indonesia tahun 2024 mencapai 759.688 ton. Sayangnya, pasokan yang bisa tersedia dari produsen daging dalam negeri hanya mencapai 496.246 ton.

Hal inilah yang menyebabkan publik sering mendengar aksi importasi daging, sapi bakalan, hingga siap potong saban tahun.

Padahal, Kementerian Pertanian mencatat ada hampir 5 juta peternak skala rumah tangga. Namun, secara tren sejak tahun 2020, produksi daging sapi yang dihasilkan para peternak lokal berkurang.

Peternakan sapi di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat memprihatinkan sampai saat ini. Pelaku usaha peternakan di Indonesia saat ini adalah peternakan rakyat yang berkontribusi sebanyak 78% dalam pasokan sapi. Usaha peternakan sapi di indonesia yang berfokus pada sapi potong didominasi oleh peternakan rakyat sebesar 4,20 juta orang yang menguasai lebih dari 98% ternak di Indonesia

Sayangnya, aktivitas peternakan rakyat belum berdaya. Industri peternakan lokal masih menghadapi tantangan dalam aspek seperti pembiayaan, investasi, hingga kemitraan. Masalah lainnya adalah pengelolaan informasi pemasaran yang tak memadai, kurangnya bimbingan teknis/pelatihan pengolahan hasil peternakan, pembinaan pendampingan sistem organik peternakan, dan pemutakhiran basis data UPH Peternakan.

Selain manajemen peternak, tantangan utama Indonesia untuk mencapai ketahanan suplai hewan kurban adalah pemerataan distribusi. Namun yang terjadi adalah distribusi yang tidak merata. Contohnya, sepanjang tahun 2024, sekitar 60% hewan kurban dan daging sapi berada di wilayah perkotaan karena ketimpangan antara desa dengan kota yang memengaruhi daya beli daging.

Akibatnya, secara nasional, rapor positif peningkatan produksi ternak Indonesia pada tahun 2024 masih didominasi ayam-sekitar 31,54% dari total produksi ternak nasional. Sementara realisasi pertumbuhan produksi daging sapi hanya tumbuh tipis sebanyak 3,93% atau 477 ribu ton.

Distribusi yang tidak merata juga hingga kini masih disebabkan oleh permasalahan klasik yakni mahalnya ongkos kirim. Seperti yang diketahui ongkos logistik di Indonesia kalah kompetitif dibandingkan negara di kawasan Asia Tenggara. Saking mahalnya ongkos logistik intranegeri di Indonesia, masih lebih murah ongkos kirim impor.

Pemerintah sebenarnya sedang berfokus memberdayakan peternak skala rumah tangga melalui banyak aspek.

Namun, sebelum melakukan sosialisasi atau langkah teknis pemberdayaan, ada baiknya pemerintah dan pihak terkait menentukan model bisnis yang tepat. Agaknya akan sulit jika peternak rakyat langsung diarahkan skema pasar bebas berorientasi industri.

Sebagai permulaan, pemerintah dapat menggandeng mitra-mitra untuk melakukan pemberdayaan peternak berbasis komunitas. Model pemberdayaan ini akan lebih cocok karena tetap mempertahankan kekhasan peternak rakyat.

Pendekatan ini bisa digerakkan juga oleh lembaga filantropi berbasis keagamaan. Salah satu model peternakan yang layak jadi rujukan adalah yang dilakukan melalui unit usaha bisnis pesantren.

Salah satu suksesi peternakan yang dikelola pesantren adalah Pondok Modern Darussalam Gontor. Pesantren ini memiliki unit usaha peternakan dibawah naungan Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern.

Peternakan ini memiliki 3 klaster. Pertama, ternak untuk berkembang biak. Kedua tempat penggemukan. Ketiga olahan ternak, seperti produksi susu dan daging potong. Pengembangan klaster ini tidak terlepas dari unit usaha pesantren untuk melatih kemandirian ekonomi. Hal ini menjadi kontekstual penguatan sistem pendidikan pesantren dengan metode learning by practice santri terhadap pengelolaan usaha peternakan.

Melalui sistem pendidikan yang berkelanjutan tersebut, peternakan Gontor sudah mampu menyuplai kebutuhan pesantren, termasuk kebutuhan hewan kurban di seluruh kampus gontor putri di Jawa Timur. Bahkan peternakan ini juga menyuplai pangan masyarakat sekitar sepanjang tahun, tidak hanya di musim lebaran Iduladha.

Selain persoalan hulu produksi, lembaga filantropi Dompet Dhuafa juga memiliki program Program Tebar Hewan Kurban agar distribusi daging kurban melalui jaringan dan rekanan peternak lebih merata hingga ke pelosok.

Program ini mampu mendistribusikan kurban ke lebih dari 1.500 desa dengan kategori tingkat kemiskinan di atas rata-rata di 34 provinsi.

Di samping persoalan distribusi, program ini juga memanfaatkan berbagai instrumen keuangan syariah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf untuk pembinaan peternakan lokal kecil di berbagai daerah.

Daging sapi menjadi komoditas impor produk ternak tertinggi nasional. Volume impor daging sapi mencapai 20.115,22 ton. Adapun tahun ini, negara menambah kuota impor daging sapi sebanyak 184 ribu ekor.

Bahkan tren impor juga terjadi pada hewan kurban seperti kambing etawa, sapi limousin, dan daging sapi premium seperti wagyu. Hal ini menandakan permintaan masyarakat terhadap daging sapi selalu bertumbuh.

Jalan menuju ekspor komoditas daging sapi bisa tercapai dengan dukungan program peningkatan kualitas produk perternakan yang berdaya saing di pasar global. Pasar ekspor daging sapi internasional senilai US$60 miliar (kurang lebih seribu triliun rupiah).

Dengan pemberdayaan yang tepat, kapasitas produksi sapi yang saat ini masih di angka 3 ekor per rumah tangga peternak, bisa meningkat. Kenaikan produksi 3 kali lipat saja sudah memberi sumbangsih besar terhadap suplai daging sapi nasional.

Peternakan nasional juga perlu fokus pada suatu jenis sapi tertentu untuk dijadikan citra daging sapi asal Indonesia. Sapi jenis rumpun Bali misalnya, menjadi salah satu komoditas potensial yang patut dikembangkan lebih lanjut. Sapi Bali merupakan satu dari sedikit sapi lokal yang dapat menghasilkan daging premium berstandar internasional.

Momen perayaan Iduladha 2025, bisa dijadikan wadah untuk refleksi ke arah yang lebih besar. Kurban berfungsi sebagai pemerataan dan keadilan yang menciptakan nilai ekonomi yang langsung bagi peternak sebagai produsen, pedagang sebagai distributor, dan masyarakat sebagai konsumen.

Setiap tahun, Iduladha yang menjadi simbol ketaatan dan kepedulian terhadap sesama ini bisa berkontribusi ke perekonomian nasional hingga Rp27,1 triliun. Potensi tersebut tergolong besar apabila bisa dipertahankan sepanjang tahun tanpa harus menunggu termin momen tahunan semata.

Artikel ini merupakan hasil kerja sama TCID bersama para penulis dan IDEAS, lembaga think-tank di bawah naungan Yayasan Dompet Dhuafa.

More Jakarta News

Access More

Sign up for Jakarta News

a daily newsletter full of things to discuss over drinks.and the great thing is that it's on the house!