The Conversation Indonesia kembali menggelar Conversation Corner, acara diskusi daring bulanan, dengan tema "Jadi dosen, in this economy?" pada Rabu, 21 Mei 2025. Diskusi kali ini mengangkat topik tentang potret kesejahteraan dosen masa kini dan dampaknya terhadap minat anak muda menjadi dosen.
Diikuti lebih dari 300 peserta melalui Zoom dan siaran langsung YouTube, Conversation Corner edisi ketiga ini menghadirkan dua dosen muda sebagai pembicara, yaitu Nabiyla Risfa Izzati (Dosen Hukum Ketenagakerjaan UGM, Anggota Serikat Pekerja Kampus) dan Kevin Ali Sesarianto (Dosen Hubungan Internasional, IISIP Jakarta), serta dimoderatori oleh Andi Ibnu Masri Rusli (Editor Ekonomi TCID).
Dalam diskusi kali ini, TCID berkolaborasi dengan Serikat Pekerja Kampus (SPK), sebuah organisasi serikat dosen yang aktif menyuarakan isu struktural dalam dunia pendidikan tinggi, sebagai community partner.
Diskusi dibuka dengan pengalaman pribadi kedua narasumber mengenai awal perjalanan mereka menjadi dosen. Dari obrolan ini, ada temuan penting yang mengemuka tentang tidak seragamnya sistem rekrutmen dosen antar perguruan tinggi.
Nabiyla menambahkan bahwa di PTN pun status dosen bisa berbeda-beda: PNS, non-PNS, homebase, dan lainnya.
"Jadi dosen sekarang desentral banget. Tiap kampus punya mekanisme sendiri. Bahkan antar fakultas di satu kampus pun bisa beda," jelasnya.
Tidak hanya itu, kurangnya informasi publik mengenai lowongan dosen yang tersedia menjadi tantangan tersendiri untuk orang-orang di luar lingkaran akademis yang ingin menjadi dosen. Situasi ini dinilai dapat menghambat regenerasi dosen di berbagai kampus.
Diskusi kemudian berlanjut ke topik yang mendapat banyak perhatian, yaitu tentang kesejahteraan dosen. Berdasarkan riset SPK pada tahun 2023, mayoritas dosen muda di Indonesia, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta, menerima gaji pokok di bawah Rp 3.000.000 per bulan.
Ketimpangan ini bahkan lebih mencolok di perguruan tinggi swasta. Banyak dosen swasta tidak mendapatkan gaji tetap, melainkan dibayar berdasarkan jumlah SKS. Ini mendorong banyak dosen mencari pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Dosen awal karier itu gajinya bisa di bawah UMP (Upah Minimum Provinsi), dan lima tahun pertama adalah masa paling rentan," jelas Nabiyla.
Ruang obrolan Zoom pun dipenuhi komentar, keluhan, dan curahan pengalaman pribadi para peserta. Salah satu peserta sempat berbagi pengalaman menyaksikan dosennya yang menjajakan seblak dan cemilan di sela-sela mengajar demi mencukupi kebutuhan hidup.
Meski sebagian peserta menyatakan ingin menjadi dosen, banyak juga yang ragu akibat rendahnya kompensasi dan beban kerja yang tidak sebanding. Kevin pun mengakui bahwa di kampusnya sangat sedikit dosen muda.
"Saya 28 tahun dan dosen termuda di kampus. Yang berikutnya umurnya 40-an. Ngajak nongkrong ke Senopati kayaknya enggak relate ya," ujar Kevin dengan nada bercanda.
Namun, baik Kevin maupun Nabiyla menekankan bahwa profesi dosen tetap relevan dan bermakna.
"Kalau 'lo' mau jadi dosen, pikir lagi. Tapi kalau udah terlanjur, 'do the best that you can do'," pesan Kevin.
Terkait hal ini, Nabiyla menambahkan, "Menjadi dosen itu bukan hanya profesi, tapi panggilan untuk membangun pengetahuan dan memberi dampak."
Nabiyla menekankan pentingnya organisasi seperti SPK dalam memperjuangkan kesejahteraan dosen yang lebih baik. Meskipun tergolong baru, SPK telah mulai melakukan advokasi kepada pemerintah dan DPR agar isu kesejahteraan dosen menjadi prioritas kebijakan pendidikan tinggi.
"Kesejahteraan dosen adalah masalah struktural. Solusi personal tidak cukup. Kita butuh solidaritas untuk mendorong perubahan sistem," tegasnya.
Conversation Corner kali ini menjadi ruang langka bagi para dosen dan calon dosen untuk mencurahkan suka duka mereka. Kolom obrolan Zoom penuh dengan saran, refleksi, dan diskusi yang menghidupkan suasana. Salah satu peserta, yang juga dosen, bahkan membuat ilustrasi visual berisi rangkuman isi diskusi sebagai bentuk refleksi setelah acara selesai.
Diskusi ditutup dengan semangat kolektif untuk tidak menyerah dalam memperbaiki kondisi dosen di Indonesia. Para pembicara dan moderator sepakat bahwa menjadi dosen bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang membentuk masa depan pendidikan, dan bahwa perubahan hanya bisa dicapai lewat solidaritas dan kesadaran bersama.
Acara Conversation Corner hadir secara rutin setiap bulannya bersama akademisi, peneliti, dan pakar untuk membahas isu sosial terkini. Jika kamu tertarik untuk bekerja sama mengadakan diskusi bersama The Conversation Indonesia, hubungi kami di: [email protected]
















